Budidaya Ulat Hongkong dan Tips Ternak Ulat Hongkong Sebagai Bisnis Menguntungkan

Budidaya ulat hongkong cukup banyak dikembangkan di Indonesia. Bahkan perkembangan bisnis ulat ini juga semakin menjamur. Hal ini tidak lepas dari peningkatan pasarnya yang tergolong prospek.

Memang sasaran pasar dari budidaya ulat Hongkong, banyak ditunjukan kepada para pemelihara burung, baik skala perorangan maupun peternak. Diprediksi masa depan dari bisnis ini akan sangat cerah.

Sebab seiring berjalannya waktu, banyak kolektor dan peternak burung kicau yang memakai ulat ini sebagai pakannya. Salah satu alasannya adalah karena ulat hongkong dinilai memiliki kandungan nutrisi yang sangat lengkap dan dibutuhkan oleh burung.

Nah, jika Anda tertarik untuk melakoni bisnis ini. Berikut ini ada tips dan cara budidaya ulat hongkong yang bisa kamu praktekkan di rumah.

Cara Mudah Memulai Usaha Budidaya Ulat Hongkong Sebagai Pakan Burung

Hal pertama yang harus kamu lakukan untuk merintis usaha budidaya Ulat Hongkong sebenarnya cukup mudah. Hanya perlu beberapa persiaan saja kita sudah bisa melakukan budidaya ulat hongkong. Nah, supaya lebih jelas, berikut ini ada beberapa langkah pemeliharaan, yang bisa kamu praktikan.

1. Siapkan Alat dan Bahan untuk Budidaya Ulat Hongkong

Sebelum memulai budidaya ulat Hongkong, kamu wajib untuk menyiapkan peralatan dan bahan kerja yang dibutuhkan. Berikut ini beberapa alat dan bahan yang harus kamu sediakan:

  • Tiga buah tempat (toples) kosong, lengkap dengan tutupnya.
  • Oatmeal/havermut yang kering.
  • Kapas secukupnya.
  • Indukan ulat Hongkong 2 kg, berisi kurang lebih 500-1000 ekor.
  • Pakan ulat, berupa ampas tahu/ dedak/ pur/ sayuran.

2. Memilih Induk yang Berkualitas

Selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah memilih indukan unggul yang berkualitas. Dalam memilih indukan, tidak boleh sembarangan, namun harus yang benar-benar berkualitas tinggi. Hal ini dilakukan agar produk anakannya nanti juga memiliki kualitas yang serupa.

  • Indukan unggul bisa dilihat dari ukuran fisiknya, yaitu mempunyai panjang rata-rata 15 mm, dengan lebar kurang lebih 4 mm.
  • Untuk satu kali budidaya ulat Hongkong, sebaiknya Anda menyiapkan induk Ulat Hongkong kurang dari 2 kg, atau berisi 500-1000 ekor. Pembatasan jumlah ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan perkembangan ulat tersebut. Sehingga semuanya bisa berubah menjadi bentuk kepompong dalam ukuran yang besar-besar.
  • Tempatkan induk-induk tersebut ke dalam toples yang dasarannya sudah dilapisi oatmeal setebal 2.5 cm. Lapisan inilah yang akan digunakan untuk tumbuh kembang dari ulat ini.

3. Pemberian Pakan untuk Indukan Ulat Hongkong

Selanjutnya yang harus kamu perhatikan betul adalah urusan pakannya. Jangan lupa untuk memberikan pakan yang bernutrisi dan diberikan secara berkala. Hal ini ditujukan untuk menunjang perkembangan indukan dari budidaya ulat hongkong agar perkembangbiakannya optimal. Ada beberapa hal terkait dengan akan yang mesti kamu perhatikan.

  • Adapun jenis pakan yang biasanya diberikan kepada induk ulat Hongkong adalah ampas tahu, dedak atau pur / voer pakan ayam.
  • Dalam memberi pakan tidak perlu dilakukan setiap hari, tapi cukup 4 hari sekali.
  • Jumlah pakan yang diberikan harus memenuhi standar yang telah ditentukan. Untuk berat indukan 2 kg, cukup disuplay pakan sebanyak 2 kg untuk sekali makan.
  • Sangat disarankan untuk menambahkan potongan sayuran segar atau buah-buahan. Sebab buah dan sayuran tersebut berfungsi sebagai sumber kelembapan. Sehingga akan menunjang tumbuh kembang ulat Hongkong yang memang cocok hidup di area yang bersuhu lembab.

4. Pemisahan Kepompong Hasil Budidaya Ulat Hongkong

Dalam seminggu setelah perawatan, biasanya indukan akan berubah menjadi kepompong. Maka langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah memisahkannya ke dalam toples yang lain. Toples ini lah nantinya yang akan jadi media berkembang untuk ulat hongkongnya. Nah, ada prasyarat yang mesti kamu lakukan saat memindahkan keomong ulat hongkong tersebut ke toples baru.

  • Adapun toples yang digunakan untuk memisahkan kepompong harus sudah dilapisi dengan oatmeal/ havermut sebelumnya.
  • Saat memindahkannya, kamu harus telaten dan hati-hati. Sebab cangkang kepompong akan gampang sekali rusak dan mati. Untuk itu, sebaiknya Anda pindahkan sedikit demi sedikit, secara perlahan-lahan.
  • Proses peletakan dan penempatannya pun tidak boleh sembrono. Usahakan antara satu kepompong dengan kepompong yang lain tidak saling bertindihan. Sebab selain bisa merusak fisik cangkang, juga menyebabkan kepompong gagal berkembang, bahkan mati.
  • Sebaiknya untuk hasil yang optimal, peletakan kepompong ulat hongkong tersebut disebar secara merata pada tempat lebar (nampan atau kotak kayu) yang sudah dilapisi dengan oatmeal diatasnya.
  • Nah, setelah semua kepompong sudah dikondisikan, tutuplah toples tersebut dengan koran secara rapat.

5. Siapkanlah Toples untuk Kumbang dari Kepompong Ulat Hongkong

Setelah menunggu kurang lebih sampai 10 harian, kepompong-kepompong tersebut akan berubah menjadi kumbang beras. Maka kamu harus secepatnya menyiapkan toples lain untuk para kumbang. Nah, toples tersebut yang nantinya akan digunakan kumbang-kumbang tersebut untuk bertelur.

Disinilah tahap budidaya ulat hongkong yang bisa dibilang tahap pertengahan. Dimana pada tahap ini kita akan menyiapkan kumbang yang akan kita panen ulatnya kelak. Sebelum melangkah ke proses tersebut, lakukan langkah-langkah berikut ini.

  • Sebelum memindahkannya, kamu harus memastikan bahwa tempat tersebut sudah dikondisikan. Caranya sama dengan melapisi permukaan bawah toples dengan kapas. Hal ini dilakukan untuk menjaga telur-telur kumbang, agar tidak pecah atau rusak.
  • Sebelum memindahkan kumbang ke tempat barunya, pastikan terlebih dahulu bahwa sayap-sayap kumbangnya telah berubah menjadi hitam.
  • Setelah itu tunggulah untuk beberapa hari, sampai kapas-kapas tersebut terisi dengan telur. Nah, saat kapas sudah terisi telur ulat hongkong, kamu harus rutin mengganti kapas lama dengan kapas yang baru yang masih belum terisi telur.
  • Kapas lama yang sudah terisi telur, harus segera dipisahkan dari kumbangnya, untuk proses penetasan.
  • Selama kumbang bertelur, Anda juga harus memperhatikan asupan pakannya. Makanan kumbang sebenarnya sama dengan ulat Hongkong, yaitu ampas tahu, dedak, atau pur / voer pakan ayam.
  • Berikan porsi makanan yang lebih sedikit dari jatah pakan ulat hongkong, yaitu sebanyak 100 gr per 3 hari sekali.

6. Proses Penetasan Telur Ulat Hongkong

Setelah telur dipisahkan dari kumbangnya, kamu hanya tinggal menunggu proses penetasannya saja. Biasanya untuk bisa menetas menjadi ulat, telur-telur tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 10 hari. Setelah telur menetas, maka budidaya ulat hongkong yang kamu lakukan bisa dibilang sukses. Hanya saja kamu harus mengurus telur yang menetas tersebut supaya ulat hongkongnya bisa hidu dan berkembang dengan baik.

  • Ulat yang baru saja menetas jangan langsung diambil, sebab masih terlalu kecil. kamu cukup membiarkannya saja sambil terus diberi pakan secara rutin dan sesuai porsi.
  • Nah, kamu bisa mengambil ulat-ulat kecil tersebut saat sudah berumur 30 hari untuk dipindahkan ke wadah yang lain. Sebab pada usia ini, sebenarnya kamu sudah diperbolehkan untuk memisahkan ulat-ulat tersebut ke tempat yang pembiakan yang berbeda untuk digunakan sebagai pakan atau dipasarkan.
  • Jika sudah menjadi ulat seperti ini, maka kamu bisa memberi makan mereka dengan sayuran seperti sawi, kol, kubis atau pakcoy.

7. Terus Periksa dan Amati Perkembangannya Budidaya Ulat Hongkong yang Kamu Ternakkan

Meskipun sudah banyak yang menetas menjadi ulat hongkong, sebaiknya kamu harus terus mengamati perkembangan telur-telur serta bibit ulat kecil yang baru saja menetas. Sebab perkembangan dari ulat ini tergolong cepat. Jadi erawatan dan emindahan yang kamu lakukan haruslah terkontrol penuh, jangan sampai terbengkalai. Untuk itu lakukanlah langkah-langkah perawatan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Namun ada sedikit tambahan yang perlu kamu perhatikan.

  • Perhatikan jumlah populasi dari ulat hongkong yang kamu budidayakan. Sebab hal ini akan mempengaruhi jumlah asupan pakan dan jumlah tempat yang harus kamu sediakan kedepannya.
  • Dampak buruk jika tidak seimbang dalam proses budidaya ulat hongkong, maka akan mempengaruhi kualitas ulat hongkong saat dipanen nantinya. Bisa jadi ulatnya kecil-kecil karena kurang asupan pakan atau bahkan banyak yang mati karena berdesakan.

8. Tips Tambahan untuk Memaksimalkan Budidaya Ulat Hongkong

Sebenarnya cara-cara diatas sudah cuku untuk membuat ternak ulat hongkong berhasil. Namun jika kamu ingin hasil yang jauh lebih saat panen nantinya, maka ada tips tambahan yang bisa kamu lakukan. Nah, untuk memaksimalkan dan meningkatkan keberhasilan budidaya ulat hongkong, maka sebaiknya kamu juga mengikuti tips-tips berikut ini:

  • Gantilah setiap makanan yang sudah busuk dan menjamur, dengan makanan baru yang masih segar, terutama untuk buah dan sayuran.
  • Ukuran toples harus disesuaikan dengan jumlah ulat. Maka sebaiknya harus proposional.
  • Meskipun menyukai suhu yang lembab, jangan sekali-kali menaruh toples yang berisi ulat didalam kulkas atau mesin pendingin lainnya.
  • Jangan menaruh ulat Hongkong terlalu banyak, ke dalam toples. Sebab akan menghambat tumbuh kembangnya.
  • Tidak perlu terlalu sering membersihkan toplesnya. Sebab akan mempengaruhi perubahan suhunya. Untuk itu, yang perlu Anda lakukan adalah menjaga kesejukan ruangan dalam toples.

Kira-kira itulah beberapa langkah merintis bisnis budidaya ulat hongkong yang bisa kamu jadikan rujukan. Jika kamu masih ingin mencoba skala kecil maka tidak perlu menyediakan banyak indukan dan toples. Apalagi untuk keperluan pakan harian burung kicau mu, cukup sedikit saja beternak ulat hongkongnya.

Pastinya kamu harus segera mencobanya setelah membaca panduan budidaya ulat hongkong ini. Sebab tidak ada ruginya beternak ulat hongkong. Bahkan akan sangat menguntungkan jika kamu sedang beternak murai batu. Ulat hongkong bisa jadi akan unggulan dan bergizi tinggi. Tentunya  sangat bagus untuk masteran murai batu yang berkualitas. Silahkan mencobanya di rumah.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *